Updateindonesia

Sate Beracun Sianida Sakit Hati Berbuntut Bencana

Update IndonesiaSate Beracun Sianida Sakit Hati Berbuntut Bencana, Seorang anak di Padukuhan Salakan, Kalurahan Bangunharjo, Kapanewon (Kecamatan) Sewon, Kabupaten Bantul, DIY, harus jadi korban sakit hati cinta tidak berbalas. N (10) wafat selesai melahap takjil berisi satai, lontong dan camilan yang diusung oleh si ayah, Bandiman (47). Paket takjil maut itu semestinya tidaklah sampai ke tangan N. Karena paket itu diperuntukkan untuk PNS berinisial T. Cerita pilu ini berawal pada 25 April 2021. Bandiman yang profesinya sebagai ojek online sedang ada di seputar Stylem Stadion Mandala Krida, Yogyakarta. Waktu itu, ia didekati seorang wanita untuk minta kontribusi.

Sate Beracun Sianida Sakit Hati Berbuntut Bencana

Wanita itu minta Bandiman untuk mengirim dua dos makanan, satu berisi satai ayam, satu berisi camilan. Makanan itu harus diantarkan ke rumah T di wilayah Kecamatan Kasihan, Bantul. Dan wanita itu mengatas namakan makan berawal dari Pak Hamid di Pakualaman. Dengan memperoleh gaji sejumlah Rp 30 Ribu, Bandiman menyepakati pengangkutan paket itu.

Sesampai ditujuan, rupanya T tidak ada di dalam rumah. Cuman ada istri dan anak dari T. Saat Bandiman akan memberi takjil itu, keluarga T menampiknya. Argumennya, paket itu tidak dikenali siapakah pengirimnya. Pada akhirnya takjil itu dikasih ke Bandiman. Pulang ke rumah, Bandiman buka takjilnya itu dan melahapnya bersama anak sulungnya tanpa bumbu kacang. Menyaksikan ayahnya mengonsumsi satai, N dan ibunya, Titik Rini mengkonsumsinya. Tetapi N dan ibunya mengonsumsi memakai bumbu kacang. Saat itu bencana terjadi.

Sesudah dibumbui kacang, satai itu berasa pahit dan panas. N yang sudah sempat pernah mengonsumsi satai itu sempat pernah lari ke arah kulkas untuk minum. Dan sesaat berlalu N tiba-tiba tersuruk dan Titik alami muntah. Pada akhirnya ke-2 nya dibawa ke RSUD Kota Yogyakarta. Celaka, nyawa N tidak bisa ditolong dan ibunya harus jalani perawatan.

Merasakan laporan itu, polisi selekasnya lakukan olah tempat peristiwa kasus dan mengecek tanda bukti, satai. Satai itu selanjutnya dibawa ke laboratorium. Hasilnya, satai itu memiliki kandungan toksin tipe C, kalium sianida. “Hasil dari pengecekan labfor yang dipakai untuk meracun orang itu ialah berbentuk kalium sianida,” terang Dirreskrimum Polda DIY, Kombes Pol Burkan Rudy Satria.

Ketahui ini sebagai kasus pembunuhan, polisi terus lakukan penyidikan. Pengecekan saksi, tanda bukti dan CCTV sekitaran posisi tatap muka Bandiman dan wanita itu terus dijelajahi. Sampai pada akhirnya, beberapa titik jelas sukses diketemukan. Salah satunya sebagai kunci tersingkapnya kasus pembunuhan ini ialah buntel satai. Ada kekhasan pada pengepakan satai yang dikirim. Buntel satai warna kuning dan lontong yang dibuntel seperti lopis jadi tapak jejak awalnya penelusuran aktor.

Polisi mencatat posisi penjual satai yang membuka pada siang hari. Ingat pengangkutan paket satai sianida itu dilaksanakan sekitaran jam 15.30 WIB. Sampai pada akhirnya diketemukan posisi penjual satai itu ada di Umbulharjo. Disamping itu, rekaman CCTV di seputar posisi dan info saksi memperlihatkan pemberian paket satai itu tidak menggunakan masker dan menunggangi motor. Dijumpailah aktor ialah wanita muda berumur 20 sampai 25 tahun, waktu itu menggunakan hijab dan jaket warna krem.

Memperoleh bukti itu, polisi selanjutnya bertandang ke tempat penjualnya untuk mengecek apa aktor pernah beli sate pada tempat itu. Dan betul saja, rupanya yang berkaitan beli sate di hari yang serupa dengan peristiwa. “Kunci pengungkapan itu dari buntel satainya yang termasuk unik. Buntel satai warna kuning. Kan jarang-jarang tersebut lantas kami mencari. Lontongnya dibuntel seperti lopis, terus satai yang membuka siang hari kan dapat dihitung. Penjual satainya rupanya di seputar Umbulharjo.”

Dengan modal bukti bukti itu, polisi pada akhirnya membekuk seorang wanita berinisial NA (25) sebagai pengirim paket satai sianida. NA dijumpai sebagai seorang karyawan swasta asal Majalengka, Jawa Barat yang menetap di Potorono, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, DIY. NA akui sakit hati karena tidak nikahi T. Jalinan di antara keduanya terikat saat T belum juga memiliki keluarga.

Sakit hati itu membuat NA silap mata. Ia berencana tindakan untuk meracuni T. Tanda-tanda ini ditunjukkan dengan NA sudah pesan 250 g toksin sejenis Kalium Sianida di program jual-beli online dengan harga Rp 224 ribu di akhir Maret 2021. “Polanya sakit hati. Terdakwa dan T pernah terkait dahulu saat sebelum nikah. Sasaran T sedang kita pelajari. (Karier sasaran) Karyawan negeri.”

Karena tindakannya NA dijaring dengan Pasal 340 KUHP subs Pasal 80 ayat (3) Jo Pasal 76 C Undang-undang RI nomor 35 tahun 2014 mengenai pengubahan UU Nomor 23 mengenai Pelindungan Anak. Dengan teror hukumannya, hukuman mati, penjara sepanjang umur atau minimum hukuman 20 tahun penjara.

Related Posts